Kembali Pada Tuhan

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.
Begitulah caranya!
Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya!
Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu
yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
kerana Tuhan, dengan rahmatNya
akan tetap menerima mata wang palsumu!
Jika engkau masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.
Begitulah caranya!
Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayuhlah datang, dan datanglah lagi!
Kerana Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepadaKu,
kerana Akulah jalan itu.”

~ Rumi

Energi dan Hati Manusia

Pada edisi energi kali ini, rubrik Sosiolog mengangkat tema tentang energi dan hati manusia. Untuk rubrik ini penulis mewawancarai seorang tokoh “penemu” metode praktis pemberdayaan piranti hati yaitu Bapak Irmansyah Effendi M.Sc. yang berasal dari Padang, Sumatera Barat.

Beliau adalah Master of Science dalam bidang Computer Science dengan spesialisasi Artificial Intelligence dari California State University, Amerika Serikat. Melalui Metode Penguatan Hati yang “ditemukannya” pada tahun 2000, pak Irman secara aktif mengadakan lokakarya-lokakarya pengenalan dan pemanfaatan hati di 33 kota di Indonesia serta manca negara.

Beliau telah menulis 15 judul buku yang diterbitkan oleh Penerbit Gramedia, antara lain yang terkait dengan hati yakni:

  • Hati Nurani (2002),
  • Akal Budi: Seri Hati dan Kasih  (2007) yang telah diterjemahkan ke dalam 2 bahasa (Inggris dan Jerman),
  • Hati: Mengenal, Membuka dan Memanfaatkannya (2008), serta
  • Smile to Your Heart: Simple Meditations for Peace, Health, and Spiritual Growth (dalam bahasa Inggris, 2010).

Beliau sering diminta untuk mengisi acara-acara talk show dan sebagai pembicara di dalam maupun di luar negeri. Pada kesempatan kali ini, beliau diminta untuk memberikan penjelasan singkat tentang energi dan hati manusia.

Dalam rubrik ini juga, penulis menyisipkan contoh kasus manfaat “cluster interaksi” sebagai kelanjutan dari pembahasan tentang produktifitas kinerja internal yang dikemukakan pada edisi sebelumnya (PILAR edisi ke-3, Januari 2011).

Apakah yang dimaksud dengan energi pada manusia? Piranti utama apa yang menggerakkan energi manusia? Apa implikasi keberadaan energi manusia pada individu manusia, persekitaran sosial dan alam semesta? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar inilah yang hendak disampaikan kepada pembaca Peb Pilar News. Semoga bermanfaat, amin.

Secara sederhana, energi adalah tenaga atau kekuatan. Pengertian energi pada manusia dari sudut Sosiologi dibingkai pada konteks interaksi. Energi manusia akan aktif bila ada proses interaksi antar sesama manusia. Mengapa? Karena fitrah manusia adalah berinteraksi. Untuk memunculkan kesan kuat fitrah tersebut, coba kita amati perbedaan keberadaan manusia dengan batu. Batu sebagai benda, akan terasa sekali manfaat keberadaannya bila ia digerakkan oleh energi / kekuatan persekitarannya (oleh pergerakan alam, hewan, atau manusia). Namun manusia, ia akan bermanfaat bila secara aktif melakukan aktivitas (melalui kemampuan berpikir dan penampilan budi luhur). Makanya adalah bahwa energi manusia dipengaruhi oleh dua piranti utama, yakni otak dan hati.

Pemberdayaan Otak menghasilkan sebuah akal sehat, sedangkan pemberdayaan Hati menghasilkan budi luhur. Dalam kehidupan manusia, diperlukan sinergi antara pemberdayaan dan penggunaan kedua piranti utama ini. Sinergi kedua piranti ini akan menghasilkan energi positif bagi manusia dalam berinteraksi dengan sesama, lingkungan sosial dan fisiknya. Kehadiran energi manusia disadari oleh beberapa penulis dunia seperti kita rujuk pada buku “The Secret” yang ditulis oleh Rhonda Byrne (2007).

Dr. Ben Johnson (seorang dokter, penulis, dan pelopor penyembuhan dengan energi) menyatakan bahwa “Segala sesuatu adalah energi. Di dalam tubuh ini terdapat sistem organ, sel, molekul, dan atom yang kesemuanya mempunyai energi”. Ia menyatakan bahwa “Manusia adalah menara suar yang paling kuat di semesta. Sebagai energi, manusia bergetar pada suatu frekuensi. Dan yang paling menentukan frekuensi manusia adalah apa yang dipikirkan dan yang dirasakan”.

Sedangkan James Arthur Ray (seorang pengembang The Science of Success and Harmonic Wealth) mengingatkan “Anda adalah makhluk spiritual! Anda adalah ladang energi”.

Dr. John Hagelin (seorang fisikawan kuantum, pendidik dan ahli kebijakan publik yang memperoleh penghargaan Kilby Award) menyatakan “Bahwa sebenarnya kebahagiaan di dalam diri manusia adalah bahan bakar sukses, berbahagialah…”.

Ketiga penulis tersebut menyadarkan kita bahwa energi manusia ditumbuhkan dan diperkuat oleh keberadaan otak dan hati. Dengan otak manusia dapat berpikir menghasilkan gagasan-gagasan hebat yang perlu dibarengi dengan pemberdayaan hati yang menghasilkan rasa / perasaan. Dominan rasa / perasaan positif di hati adalah bahagia, tenang, damai, nyaman serta kasih.

Wawancara singkat dengan pak Irmansyah Effendi menjelaskan bahwa manusia itu pada hakekatnya dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa, dua piranti yang utama. Namun tanpa disadari, manusia lebih sering menggunakan penggunaan otak. Oleh karena itu, piranti hati perlu diberdayakan dan dikuatkan untuk dapat menjalani kehidupan damai bahagia dan penuh kasih. Sebagai catatan, pelajaran tentang budi pekerti di sekolah-sekolah di Indonesia tidak lagi diajarkan sebagai bagian dari kurikulum sekolah. Di sekolah, anak-anak lebih ditekankan pada penggunaan otak dengan konsep rasionalitasnya. Padahal, dalam berinteraksi dengan sesama, juga diperlukan rasa kasih dan empati yang tulus untuk menghasilkan sebuah kohesivitas dan kebersamaan.

Melalui wawancara singkat ini, kita seolah-olah diingatkan oleh pak Irman, bahwa manusia perlu menggunakan hati yang mempunyai energi dahsyat untuk kehidupan sebagai hamba Allah. Energi dahsyat tersebut adalah cinta kasih. Dengan energi dahsyat tersebut manusia dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan indah kepada Tuhan dan kepada sesama. Penekanan akan kebermanfaatan cinta kasih sebagai energi diungkapkan oleh James Artur Ray “Tidak ada kekuatan yang lebih besar di semesta ini dibandingkan kekuatan cinta. Perasaan cinta adalah frekuensi tertinggi yang dapat anda pancarkan. Jika anda dapat membungkus setiap pikiran dalam cinta, jika anda dapat mencintai segala sesuatu dan setiap orang, hidup anda akan berubah”. Dengan kata singkat, manusia akan sukses dan bahagia bila mengedepankan rasa kasih membungkus pikiran dalam kasih, yang ditumbuhkan melalui pemberdayaan piranti hati.

Berikut ini wawancara singkat penulis. DR. Erna Karim, M.Si, dengan Irmansyah Effendi M.Sc. tentang “energi dan hati” manusia.

Secara sosial dan spiritual, apakah yang dimaksud dengan energi pada manusia?

Secara sosial, untuk mendefinisikan energi, paling mudahnya kita lihat interaksi antar sesama. Misalnya kita bisa merasa langsung nyaman dengan seseorang padahal baru pertama kali bertemu. Contoh lain, kita merasakan interaksi kita dengan orang tertentu tidak enak / kurang sehat tetapi kita tidak tahu bagaimana memperbaikinya. Jadi, semua makhluk hidup (termasuk manusia) punya energi dan dalam setiap interaksi akan ada pengaruh timbal-balik. Jelas ini mempengaruhi kehidupan sosial kita, baik dalam keluarga, tempat kerja, atau di mana pun, termasuk orang-orang di sekitar yang hanya kita sapa sambil lalu saja.

Secara spiritual, ada energi pada tubuh manusia yang berpengaruh pada keadaan tubuh (kesehatan, kesegaran) dan lingkungan. Di samping itu, ada pula energi pada hati manusia yang berpengaruh pada perasaan sendiri (tenang, damai, bahagia) dan lingkungan. Walaupun secara umum keduanya saling mempengaruhi, tetapi sebenarnya energi pada hati ini adalah hal yang lebih mendalam. Misalnya, orang yang sakit berat ada yang masih bisa tenang dan damai, sementara cukup banyak orang sehat yang selalu merasa tidak tenang. Tentu saja yang terbaik adalah gabungan dari keduanya, yaitu sehat, segar, tenang, damai, dan bahagia.

Apakah energi itu dalam pengertian sederhana sama dengan ‘tenaga’ atau ‘kekuatan’?

Ya, secara sederhana, memang energi adalah tenaga atau kekuatan. Tetapi secara spiritual dan sosial, energi bukan sekedar sesuatu untuk tenaga atau kekuatan. Energi adalah sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu, yang dapat dikatakan bagian yang sangat mendasar dari kehidupan setiap makhluk hidup. Pada manusia, kesegaran dan sikap dalam berinteraksi secara sosial, sehingga secara otomatis berpengaruh kepada lingkungan.

Apakah yang dimaksud dengan energi negatif dan energi positif yang  ada pada manusia?

Cukup sering istilah negatif dan positif dipakai untuk menjelaskan kutub dari energi. Dalam hal ini, setiap makhluk sebaiknya mempunyai energi negatif dan positif yang seimbang. Tetapi, apabila istilah ini dipergunakan dalam menjelaskan keadaan energi, maka energi negatif adalah penyebab hal-hal tidak baik pada fisik, mental, maupun emosional kita. Energi positif adalah energi yang memberikan kita manfaat-manfaat positif, misalnya membantu kita untuk lebih sehat, segar, ataupun tenang dan damai. Jadi, dalam hal ini, semakin banyak energi positif, akah semakin baiklah keadaan kita.

Implikasi apa yang dapat ditimbulkan dari pancaran energi negatif dan positif pada individu manusia itu sendiri dan persekitaran sosial (relasi sosial) serta alam semesta (musibah, kejadian, alam) ?

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, energi negatif bisa menyebabkan kita tidak sehat, tidak nyaman, tidak tenang, dsb. Energi negatif ini terus memenrus memancar mempengaruhi sesama dalam interaksi kita. Energi negatif dari tubuh lebih mudah disadari, apabila seseorang tidak sehat, alias sakit, maka orang tersebut tentu akan mencari bantuan dan beristirahat untuk sembuh. Tetapi, energi negatif dari hati adalah sesuatu yang masih kurang dikenali secara umum. Banyak orang yang hatinya dipenuhi oleh energi negatif (emosi negatif), seperti kesombongan, kemarahan, ketidakpuasan, dan sebagainya yang berlangsung terus menerus dalam waktu panjang yang cukup sering memburuk terus keadaannya. Energi negatif dari hati ini sebagaimana energi negatif lainnya, terus menerus dipancarkan oleh yang bersangkutan dan dapat dirasakan oleh orang-orang yang cukup peka sebagai perasaan tidak nyaman saat berinteraksi dengan orang-orang tertentu. Tetapi, peka atau tidak, biasanya orang-orang begini akan cenderung mempunyai hubungan sosial yang kurang harmonis dengan lingkungannya.

Cukup sering kita dengan keluhan bagaimana dia merasa lingkungan di tempat kerjanya kurang nyaman, sehingga dia juga menjadi tegang, stress dan menyebarkan pula masalah ini ke rumah dan sebagainya dan biasanya juga mempengaruhi tubuh fisik.

Nah, energi negatif yang terus menerus terpancar di suatu lingkungan, berpengaruh besar pada setiap manusia di lingkungan tersebut. Tentu saja pancaran energi negatif ini sampai ke semua makhluk hidup lainnya yang mempunyai energi juga, yaitu tumbuhan bahkan bumi. Apabila sebuah daerah yang cukup luas terlalu banyak energi negatifnya, maka hal ini akan memberikan pengaruh yang negatif pada bumi juga, dimana reaksinya dapat timbul bencana alam, dsb.

Sebagai kebalikannya, tentu saja energi positif akan memberikan implikasi yang baik, pada yang bersangkutan maupun lingkungannya. Ingatkah anda, saat seorang tersenyum kepada anda dengan tulus dan  bahagia, anda jadi tersenyum bahagia juga? Bayangkan kalau ada senyum dan kebahagiaan sepanjang hari di mana-mana. Sebagaimana energi positif ini adalah yang dari hati, ketulusan juga harus dari hati. Jadi, hati adalah sebuah kunci yang sangat penting, tidak saja untuk energi positif dari hati, ketulusan, tetapi juga dalam hubungan sosial kita dengan sesama.

Apa yang dimaksud dengan hati pada manusia?

Hati adalah Anugerah luar biasa dari Sang Pencipta untuk manusia sebagai kunci hubungan kepadaNya. Hati adalah sesuatu yang sangat istimewa, yaitu hanya kita yang bisa mengotorkan, dah hanya Sang Pencipta yang dapat membersihkan. Sumber energi positif dari hati hanyalah Berkat Sang Pencipta (rahmat Illahi, red.). Jadi semua energi negatif hati sebenarnya kita sendiri yang membuat. Seseorang yang hatinya mempunyai banyak energi negatif, saat berinteraksi dengan kita membuat kita merasa tidak nyaman. Apabila pada saat interaksi tersebut hati kita sedang dipenuhi oleh energi positif, kita akan tetap merasa tenang, damai dan bahagia. Malahan energi positif kita ini dapat ‘menghimbau’ hati orang tersebut untuk menerima Berkat Sang Pencipta yang menjadi energi positif bagi hati dan dirinya secara keseluruhan. Tetapi, apabila saat interaksi tersebut energi positif hati tidak cukup kuat, maka kita cenderung akan bereaksi secara negatif.

Di manakah letaknya hati manusia secara praksis?

Hal pertama yang harus kita ingat adalah, hati di sini bukanlah organ tubuh fisik kita yang dalam bahasa Inggrisnya disebut sebagai “liver”. Hati di sini adalah sesuatu yang tidak tidak fisik yang berada dalam rongga dada kita. Hati adalah sesuatu yang sangat penting yang banyak disebut dalam kitab suci berbagai agama untuk dipergunakan dalam hubungan kita dengan Sang Pencipta.


(Dalam kitab suci agama Islam, ada kurang lebih 200 ayat yang mengingatkan tentang keberadaan hati dan penggunaannya, seperti yang dikemukakan antara lain pada Surat Al-Ankabut ayat 49, Surat Al-Hajj ayat 46, Surat Al-Mu’minun ayat 78, Surat Al-Israa ayat 36, surat Al-’Araf ayat 179, dsb. ek).

Untuk memperjelas kedudukan hati sebagai piranti yang utama dalam hubungan dengan Sang Pencipta, berikut adalah kutipan beberapa ayat di dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan hati:

Al-Ankabut ayat 49:
“Sebenarnya (Al-Qur’an) itu adalah ayat-alat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu. Hanya orang-orang yang zalim yang mengingkari ayat-ayat Kami”.

Al-Hajj ayat 46:
“Maka apakah mereka tidak berjalan di bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dapat mengerti atau telinga yang dapat mendengar? Maka sesungguhnya bukan pandangan (mata) yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada”.

Al-’Araf ayat 179:
“Dan sungguh Kami telah sediakan untuk (isi) neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati (tetapi) tidak mau memahami dengannya, mereka mempunyai telinga (tetapi) mereka tidak dapat mendengar dengannya. Mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Qur’an Asy-Syu’araa ayat 88-89:
“Akan ada hari dimana tiada bermanfaat harta benda dan anak-anak, kecuali siapa yang datang kepada Allah dengan qolbun saliim (hati yang selamat)”.

QS ar-Ra’d ayat 28:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”.

QS ar-Israa’ ayat 36:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati; semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya”.

QS al-Muthaffifiin ayat 14:
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”.

QS al-Baqarah ayat 284:
“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan jika anda melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau anda menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan anda tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

QS Al-Mu’minun ayat 78:
“Dan Dialah yang telah menciptakan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur”.

QS al-Anfal ayat 2:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhan lah mereka bertawakkal”.

QS An-Nahl ayat 102:
Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Tuhan mu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

Hati, sebagai piranti penting disamping otak, adalah anugerah luar biasa dari Tuhan YME untuk manusia dapat menjalani kehidupan di muka bumi ini dengan indah. Jadi hatipun perlu diberdayakan dan digunakan seperti halnya otak.

Metoda praksis dan praktis apa yang pak Irman ‘temukan’ dan sosialisasikan / ajarkan kepada banyak manusia tidak hanya di Indonesia (di 33 kota), tetapi juga di manca-negara (Amerika, Canada, Panama, Venezuela, Jamaica, Australia, Belanda, Jerman, Inggris, Irlandia, Swiss, Austria, Portugal, Spanyol, New Zealand, Turki, China, Hongkong, Singapura, Malaysia, dsb)?

Pertama, manusia diberikan oleh Sang Pencipta akal dan budi. Apabila otak kita adalah piranti khusus untuk akal kita, maka hati adalah piranti khusus untuk budi kita. Masing-masing adalah hal yang sangat penting. Memakai akal kita dengan sebaik-baiknya adalah bagian dari mensyukiri anugerah yang indah dari Sang Pencipta. Tetapi, tanpa cukup mempergunakan hati kita, maka kita barulah mempergunakan / menjalankan / mempraktekkan budi hanya sebatas akal kita, belum ke tahap yang sebenar-benarnya. Seyogyanya, kita melakukan sesuatu dengan pikiran tulus dan benar-benar dengan perasaan tulus pula. Sudah tentu budi ini jelas adalah kunci penting dalam hubungan sosial kita dengan sesama, apalagi kalo kita bicara soal ketulusan dan sejenisnya.

Kedua, memberdayakan hati bukanlah sekedar basa-basi atau istilah saja, tetapi memang ada metodanya. Ini disebabkan karena banyak cara dan sikap kita dalam hidup sehari-hari yang sebenarnya menghalangi hati kita untuk berfungsi. Apalagi bila hati kita telah dipenuhi oleh energi negatif, maka semakin susahlah bagi hati kita untuk berfungsi secara otomatis. Ini berbeda dengan indera fisik kita seperti mata, telinga, dan sebagainya, yang dapat dikatakan berfungsi secara otomatis mengikuti perintah dari otak kita.

Ketiga, walaupun memberdayakan hati membutuhkan metoda khusus, tetapi karena metodanya sendiri sangat alami, maka sebenarnya sangatlah mudah. Pada tahap awal kita hanya perlu menyantaikan otak kita dan tersenyum agar tidak menghalangi hati dan membiarkan agar hati kita menjadi lebih kuat. Metoda ini biasanya saya sebut sebagai “Metoda Menguatkan Hati” (Lihat buku Hati: Mengenal, Membuka, dan Memanfaatkannya, karya Irmansyah Effendi M.Sc. 2008).

Dengan menguatnya hati kita, hati sebagai anugerah khusus dari Sang Pencipta sebagai kunci hubungan kepadaNya, akan secara otomatis pula membersihkan energi negatif hati, energi negatif tubuh dsb serta memberikan energi positif untuk semua bagian diri kita dan lingkungan.

Yang membuat hal ini sangat mudah adalah karena semua proses ini tidak perli kita urus sama sekali. Ia terjadi secara otomatis. Yang perlu kita lakukan hanya santai dan tersenyum saja.

Di Indonesia dan di manca-negara, ada Lokakarya Membuka Hati dan juga berbagai Kelompok Sosialisasi Hati di berbagai bidang. Sebagai contoh, program mengajarkan pemakaian hati telah diakui dan secara formal dijalankan di Health Center di suatu College di California, Amerika Serikat. Semua yang telah belajar menguatkan hati juga selalu dianjurkan untuk bukan semata tahu atau menyukai, tetapi untuk benar-benar memberdayakan hati dalam kehidupan mereka sehari-hari sesering mungkin. Semakin banyak dari kita yang membuka hati, semakin indah segalanya.

Bagaimana keterkaitan antara pembelajaran hati dengan ‘energi’ manusia yang belajar dan tidak belajar hati?

Manusia yang tidak belajar hati, energinya cenderung mudah terpengaruh secara negatif. Padahal, untuk merubah atau membuatnya menjadi positif tidaklah terlalu mudah. Apalagi untuk energi positif hati, apa yang dapat dilakukan oleh manusia sangatlah terbatas. Orang-orang yang berlatih khusus untuk menenangkan diripun, biasanya hanya mencapai taraf tenang dan damai yang terbatas saja.

Setelah menjalankan metoda menguatkan hati dan dapat memberdayakan hati yang adalah anugerah khusus dari Sang Pencipta (dimana hati kita secara otomatis menerima Berkat dari Sang Pencipta yang tentu adalah energi positif terbaik diatas segalanya), banyak perubahan terjadi pada yang bersangkutan. Yang bersangkutan tidak mudah terpengaruh secara negatif. Selain itu, Berkat dari Sang Pencipta juga bekerja secara meluas dan mendalam membersihkan energi-energi negatif di manapun dan menggantikannya dengan energi positif.

Apa implikasi positif belajar hati dengan perbaikan kualitas energi pada manusia?

Bagi yang telah belajar, melaporkan banyak perubahan yang bagus pada stamina, kesehatan, ketenangan, kekhusukan dalam berdoa dan sosialisasi (interaksi, red) dengan sesama. Tidak saja mereka merasa lebih sehat, segar, tenang, damai dan bahagia, mereka juga merasa betapa hal-hal yang selama ini membuat mereka bereaksi secara negatif, sekarang hal yang sama hanya membuat mereka tersenyum saja. Perubahan mereka juga dapat dikenali oelh banyak rekan / saudara mereka yang juga merasakan perubahan perasaan mereka, sehingga juga ikut belajar.

~ dikutip dari Majalah Pilar Ekonomi Bangsa Volume IV ~

Manusia: Peran dan Tanggung Jawab


Maka apakah kamu mengira,
bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja),
dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?
(QS. 23:115)

Manusia sebagai makhluk yang memiliki sifat khas memiliki kesadaran akan diri sendiri, dan selalu mencari jati diri. Manusia akan selalu bertanya :
- Siapakah saya ?
- Dari mana saya berasal ?
- Untuk apa saya hidup?
- Bagaimana saya harus menjalani hidup?
- Adakah hidup ini hanya sekali? Adakah hidup yang kekal ?
- Bagaimana supaya hidup bahagia? Apa itu bahagia ?

Al-Quran sebagai cahaya (nur) dan petunjuk bagi manusia dari Allah SWT memberi jawaban yang pasti terhadap pertanyaan di atas.
Berikut keterangan ringkas dari Al-Quran :

  1. Manusia adalah makhluk/ciptaan Allah (2: 21)
    Manusia adalah bagian integral dari  alam semesta/makhluk Allah yang lain. Masing-masing memiliki ciri khas, sekaligus saling bergantung satu sama lain.
    Dia menciptakan manusia, (QS. 55:3)

  2. Manusia berasal dari tanah (3:59, 15:28. 33) dan mendapat tiupan roh (dari) Allah (15:39)
    Sebagai ciptaan Allah manusia berasal dari dua unsur, yaitu unsur tanah –bagian dari alam yang rendah–, dan ruh Allah, yang suci dan tinggi.
    Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (QS. 15:28)
    Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadianya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduk kamu kepadanya dengan bersujud . (QS. 15:29)

  3. Struktur manusia
    Sehubungan dengan asal manusia, maka manusia terdiri dari 2 unsur :
    - Jasmani, yang berasal dari tanah. Merupakan bagian alam yang nyata
    - Ruhani, yang berasal dari ruh Allah. Merupakan bagian dari alam ghaib (17:85)
    Jadi dalam diri manusia, terdapat dua alam sekaligus yaitu alam nyata (jasmani) yang tunduk kepada hukum-hukum materi, seperti fisika, kimia, dan alam ghaib (ruhani) yang memiliki kecenderungan sendiri. Keduanya berbeda tetapi tidak bisa dipisahkan dan saling memperngaruhi.
    Jika unsur tanah mendominasi manusia, maka manusia cenderung menjadi makhluk biologis saja, sebagaimana hewan. Bahkan Allah menyebut bisa lebih buruk dari hewan.
    Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu). (25 : 44)
    Sebaliknya jika unsur ruhani yang mengendalikan, ia bisa menjadi makhluk yang paling baik.(98:7)

  4. Keistimewaan Manusia
    Sebagai bagian dari alam, manusia memiliki keistimewaan/ciri khas dibanding lainnya, antara lain :
    - Merupakan makhluk yang mulia (17:70), bahkan malaikat disusuh bersujud kepada Adam (manusia) (2:34)
    - Memiliki bentuk terbaik (94:4)
    - memiliki akal/ilmu (2:31)

  5. Tugas dan Peran Manusia
    Manusia hidup untuk mengemban amanah yang berat yang hanya dibebankan kepada manusia (33:172).
    Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat  kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS. 33:72)

    Amanat itu adalah tugas dan peran  sebagai :
    - Abdullah (Hamba Allah) :
    yaitu tugas untuk menyembah/beribadah kepada Allah SWT (51:59), secara suka rela.
    - Khalifatullah fil Ardh (wakil Allah di dunia) (2:30)
    yaitu peran untuk memakmurkan, dan mengatur kehidupan dunia sesuai petunjuk Allah SWT

  6. Tujuan hidup
    Tugas dan peran di atas dijalankan dalam rangka mencari ridha Allah. (QS. 2:207). Dengan demikian tujuan hidup manusia yang sesungguhnya adalah mardhatillah (keridhaan Allah)
        Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah;
    dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS. 2:207)

  7. Bekal dan potensi manusia
    Dalam menjalankan tugas dan perannya manusia memperoleh bekal, antara lain:
    - fisik yang sempurna (94:4)
    - indera (16:78)
    - fuad/hati (16:36)
    - ilmu dan akal (21:30)
    - Agama ( 3:164, 4:165) (keterangan bawah)
    Selain itu manusia memiliki potensi/sifat positif, antara lain :
    - hanif (cenderung kepada kebenaran) (30:30)
    Di luar manusia, juga mendapat dukungan berupa :
    - ditundukannya alam bagi manusia, doktrin ini sering disebut taskhir, yang menjadikan manusia memahami dan menaklukkan alam
    - doa dan bisikan malaikat, untuk teguh dalam kebenaran (41:30-31, HR Tirmidzi ttg. bisikan malaikat dan setan)

  8. Halangan dan Godaan Manusia
    Selain bekal dan potensi yang mendukung manusia dalam hidup, juga terdapat halangan dan potensi negatif, yang bersifat menjauhkan atau melalaikan manusia, di antaranya :
    - hawa (nafsu rendah) : adalah nafsu yang cenderung kepada kejelekan (12: 53)
        karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku (12: 53)
    Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Ilah(tuhan)nya (25:43)
    - setan (2:36, 7:20-22)
        Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. 2:208)
    - Ego negatif/sifat-sifat buruk diantaranya
    o tergesa-gesa ( 17:11)
    o suka membantah (18:59)
    o suka melampaui batas (10:12)
    o keluh kesah ( 70:20)
    o kikir  (70:19)
    o suka ingkar ( 100:6)
    o merasa cukup (96:7)
    o susah payah (90:4) dan lemah ( 4:28)
    (Cara-cara menghilangkan sifat-sifat di atas adalah dengan ibadah yang khusu’: shalat, sedekah, dll. lihat bawah)

  9. Petunjuk Hidup Manusia : Islam
    Islam sebagai agama yang diturunkan oleh Allah SWT, adalah merupakan petunjuk hidup yang paripurna, dan terang benderang (4:174), yang berisi kebenaran dan keadilan(6:116), yang akan mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya (14:1). Agar bisa menjalani hidup dengan baik, manusia harus mengikuti petunjuk agama.
    - agama membimbing manusia ke tujuan hidup yang benar
    - agama melindungi manusia dari sifat-sifat buruk, tarikan hawa nafsu, godaan setan,
    yang hendak menjauhkan manusia dari tujuan hidup yang sebenarnya
    - agama membimbing potensi manusia (indera, hati, akal, fitrah) agar digunakan secara optimal, dan benar

        Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya,
    niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga)
    dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.
    (QS. 4:175)

  10. Macam-macam Jalan Hidup Manusia
    Dalam menjalani kehidupan ini, manusia diberi dua jalan (90:10), yaitu keimanan (ketaqwaan) dan kekufuran (91:8-10). Manusia diberi kebebasan untuk memilih, atas jalan yang terang dan jelas itu (2:256)

        Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan . (QS. 90:10),
        maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan,
    sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
    dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. 91:8-10)

    Jalan Keimanan, adalah jalan mengikuti Allah, Rasul, dan orang orang yang mengikutinya. Mereka itulah orang yang diberi nikmat oleh Allah (4:69)
        Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang
    yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin , orang-orang yang mati syahid
    dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69)

    Jalan kekufuran, adalah jalan menjauhi Allah, mengikuti jalan-jalan setan dan orang-orang yang mengikutinya.
        Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS. 7:27)

    Yang demikian adaah karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil
    dan sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti yang benar dari Rabb mereka.
    Demikianlah Allah membuat untuk menusia perbandingan-perbandingan bagi mereka. (QS. 47:3)

    Tentang iman, kafir dan munafik (menyusul)

  11. Akhir Perjalanan Hidup Manusia
    Setelah menjalani hidup di dunia, manusia seluruhnya (bahkan seluruh alam) akan kembali kepada Allah SWT. Allah adalah akhir perjalanan hidup manusia
        dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan”. (QS. 41:21)

    Jika telah menjalankan hidup dengan benar, membawa bekal yang baik, akan menghadap dengan wajah berseri-seri. Jika sebaliknya akan menghadap dengan malu dan wajah yang hitam

        pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram.
    Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan):
    “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”. (QS. 3:106)
    Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga);
    mereka kekal di dalamnya. (QS. 3:107)

Penutup
Jadi jawaban atas pertanyaan : dari mana, siapa, hendak kemana, dengan apa ? Jawabannya cuma satu : Allah SWT…
Kita berasal Allah, Sebagai ciptaan Allah, menjalankan amanah Allah, dan akan kembali kepada Allah, melalui (jalan yang ditunjukkan) Allah ……….

Muhasabah:

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras.  Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.

(QS. 57:16)

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.
Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,
dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,

kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, 
yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya,
dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, 
bagi orang (miskin) yang meminta dan
orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), 

dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, )
dan orang-orang yang takut terhadap azab Rabb nya. 
Karena sesungguhnya azab Rabb mereka
tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). 

Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, 
kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki
maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. 

Barangsiapa mencari yang dibalik itu
, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. 
Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya.)
Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. (
Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan.

(QS. 70:20-35)